KONSISTENSI MEMILIH GENRE DALAM BERKESENIAN

     Hai sedulur Tuang, bertemu lagi nih dengan majalah Tuang USF. Kali ini kita akan menyorot tentang konsistensi memilih  genre dalam berkesenian. Konsistensi sendiri  ialah melakukan hal secara berulang-ulang dengan kadar yang sama. Biasanya seniman menggunakan ini sebagai bentuk karakteristik karya mereka. Akan tetapi setelah melakukan pencarian secara lebih luas,  tidak semua seniman menggunakan genre mereka dalam seumur hidup, ada kalanya para seniman merasa bosan dengan genre yang ia terapkan dalam berkarya. Ya bisa dibilang ingin mencoba suatu hal yang baru selain menggunakan itu. 
     Di CIPRAT -USF sendiri dalam berproses setiap anggotanya menggunakan teknik yang berbeda-beda, ada yang memakai kanvas sebagai media, menggunakan pensil atau drawing pen,  ada juga yang memakai water colour atau pun media warna lainnya. Seperti salah satu anggota ciprat-usf yang masih aktif, Khairul Anwar. Ia nyaman berproses menggunakan kanvas dan cat minyak. “ Dulu sebelum saya menggunakan kanvas dan cat minyak, saya selalu menggunakan kertas dan pensil. Waktu itu saya menargetkan sebelum saya mulai menggunakan kanvas saya harus matang terlebih dahulu menggunakan kanvas dan pensil. Ketika dirasa sudah mulai matang dalam penggunaan pensil barulah saya berlatih menggambar di kanvas dan cat minyak. Saya juga pernah mencoba beberapa media seperti drawing pen, cat air, pastel maupun cat poster. Sebelum akhirnya saya menemukan kenyamanan di media kanvas dan cat minyak. Nyaman di kanvas bukan berarti saya nggak mau menggambar lagi di kertas, tetapi lebih mendalami saja di kanvasnya”. ujarnya. 
     Konsisten dalam memakai genre bisa menjadi suatu kenyamanan seorang seniman, sampai akhirnya hal itu menjadi ciri khas kekaryaannya. Hal tersebut diutarakan oleh salah satu anggota kehormatan Ciprat-USF. Adalah Indi Haryadi, salah satu seniman bergenre kontemporer dari USF yang tinggal di kota Klaten. Dalam pembuatan karya dia selalu menyertakan unsur pohon pisang. Alasannya karena pohon pisang mempunyai filosofi tersendiri yaitu pohon pisang merupakan pohon yang tumbuh dengan seribu manfaat, semua bagiannya bisa dimanfaatkan. “Sebenarnya begini, Mbak. Seorang seniman itu akan selalu pada genre yang sama ketika membuat sebuah karya, apalagi dia sudah mempunyai nama, dan hal itu akan menjadi sebuah ciri khas pada dirinya. Akan tetapi hal tersebut tidak menjadi sebuah hal paten, bisa juga ketika mereka merasa ingin mencoba hal baru mereka akan berpindah genre sesuai keinginan mereka.” ucap beliau. Ketika seorang seniman tidak selalu berdiri pada genrenya hal itu bukan berarti plin-plan, akan tetapi merupakan suatu siasat. Jadi dalam berseni perlu adanya kenyamanan dalam membuat karya, ketika sudah merasa bosan kita bisa keluar dari zona nyaman, mencoba hal baru. Semua itu didasarkan pada kemauan berproses. Menggunakan media, bahan, dan teknik apapun tidak dipermasalahkan, tapi ingat, setiap pelaku seni harus memiliki coraknya masing-masing sebagai tanda pengenal.

Komentar

Postingan Populer