Belajar dari Studio TaKsu
Saat ini cukup banyak komunitas maupun organisasi kesenian yang bergerak di bidang tari khususnya di kota Solo. Meskipun begitu, tidak sedikit yang perlahan menghilang karena beberapa faktor seperti proses yang tidak berjalan maupun hilangnya anggota. Tapi banyak juga yang masih tetap eksis hingga saat ini loh contohnya saja Studio TaKsu. Mereka rutin melakukan proses dan mengadakan pentas produksi setiap tahunnya.
Mungkin masih banyak diantara kita yang belum mengetahui apa itu Studio TaKsu? Mari kita mengenal sedikit tentang mereka. Studio TaKsu adalah sebuah kelompok atau komunitas yang berdiri sejak tahun 1995 dan didirikan oleh Budi S. Susilo (alm), Eko Supendi, Hengky S. Rivai dan Djarot B. Darsono. Nah, Berdirinya Studio TaKsu sendiri hanya berdasarkan rasa dan keinginan untuk selalu mengadakan proses (kesenian). Komunitas ini mencoba untuk menekankan, mengutamakan, dan menanamkan perasaan yang selalu merasa kurang dan gelisah untuk menjadi cerdas, kritis dan dinamis dalam menangkap situasi perkembangan lingkungan manusia sebagai stimulasi awal untuk berkreasi secara positif dan maksimal sesuai dengan bidangnya.
Mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa namanya TaKsu? Nah, perlu diketahui nama tersebut muncul dari singkatan kata TAri, GeraK, dan SUara yang kemudian dimaknai sebagai sebuah format atau konsep berekspresi. Kebetulan dalam bahasa Bali Taksu mempunyai arti aura atau kekuatan yang menyerai seseorang diwaktu tampil di tempat-tempat tertentu seperti panggung, podium, mimbar dan sebagainya.
Seperti apa proses di Studio TaKsu? Pada kesempatan ini salah satu anggota Studio TaKsu menceritakan sedikit tentang proses yang berjalan di Studio TaKsu. Yashinta Desi Nataliawati, S. Sn atau biasa dipanggil Mba Yashinta, wanita kelahiran 12 Desember ini pernah menempuh pendidikan di SMK N 8 Surakarta dan merupakan Alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta 2008/2009. Nah, Mba Yashinta sendiri hingga saat ini masih aktif di bidang kesenian walaupun saat ini ia sudah menikah dan mempunyai anak. Mba Yashinta sendiri adalah seorang penari dan koreografer.
“Untuk proses di Studio TaKsu sendiri biasa dilaksanakan pada hari Rabu, tapi bisa berubah sewaktu-waktu karena para penarinya yang punya kesibukan masing-masing” ujar Mba Yashinta. Studio TaKsu biasanya melaksanakan pentas produksi sebanyak 1 sampai 2 kali dalam setahun. “Untuk lamanya proses sekitar 3 bulan, tapi alangkah lebih baik jika proses dilaksankan 4 sampai 5 bulan sebelum pementasan untuk pematangan, karena 3 bulan merupakan waktu yang terlalu singkat.” lanjutnya. Dalam menggarap suatu karya Mba Yashinta sendiri sering melakukan diskusi dengan orang-orang yang lebih berpengalaman di Studio TaKsu, seperti Bapak Djarot. Dengan diskusi tersebut mba Yashinta tahu apa saja yang kurang dan yang tidak menarik dalam suatu pementasan. “Sebelum pentas kita obrolin dulu konsepnya apa, latar belakangnya seperti apa dan itupun perlu didiskusikan lebih dari 3 kali, dan ketika proses pun konsep itu bisa saja berubah.” Kata mba Yashinta.
Menurutnya yang sulit dalam proses adalah menentukan waktu yang bisa menyesuaikan penarinya, apalagi jika suatu karya yang memerlukan banyak penari. Oleh karena itu, sebelum melaksanakan proses mereka mengadakan pertemuan terlebih dahulu untuk membahas jadwal. “Jika selama proses itu cuma bisa 5 kali latihan, yasudah itu di fokuskan dan dimatangkan, ini biasa terjadi kalau mau mengisi undangan” Ujar Mba Yashinta. Bagi mba Yashinta agar proses berkesinian berjalan lancar perlu niat, senang, guyup, mempunyai rasa tanggung jawab, bisa membagi waktu dan merasa mempunyai keluarga. “Anggap aja proses itu ya pementasanmu. Walaupun pasti ada rasa kesel, capek dan keinginan untuk istirahat.” ungkap Mba Yashinta. “satu hal lagi, jika ingin membuat suatu pementasan, konsep harus dipikirkan secara matang-matang, karena penilaian penonton tergantung dari konsep dan prosesmu.” lanjutnya.


Komentar
Posting Komentar